- Oleh: Abdul Wahid Nara,
Kepala SMAN 2 Pinrang
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga bumi dari kerusakan, termasuk pencemaran lingkungan akibat sampah yang tidak dikelola dengan baik.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan lingkungan hari ini, banjir, pencemaran sungai, tumpukan sampah plastik sebagian besar memang lahir dari perilaku manusia sendiri. Karena itu, gerakan pengelolaan sampah sejatinya bukan hanya agenda kebersihan, tetapi juga bentuk ibadah sosial dan tanggung jawab kekhalifahan manusia di bumi.
- Sampah Bukan Sekadar Masalah, Tapi Ujian Siri’ na Pesse.
Dalam pandangan Bugis-Makassar, menjaga kehormatan diri dan lingkungan disebut Siri’. Orang yang membuang sampah sembarangan sejatinya telah merusak Siri’ dirinya sendiri dan mencederai Pesse atau rasa peduli terhadap sesama.
Di SMAN 2 Pinrang, kami ingin pengelolaan sampah tumbuh dari nilai ini. Bukan karena takut sanksi, tetapi karena malu jika lingkungan sekolah kotor dan karena peduli agar teman tidak sakit akibat lingkungan yang buruk.
- Kerangka Kerja Efektif: 3P Berbasis Siri’ na Pesse.
Agar gerakan berjalan sistematis dan menyatu dengan karakter lokal, kami menggunakan kerangka 3P Bugis-Makassar :
- Pabbattang – Menyadari dan Meneladani
Langkah pertama adalah Mappabattang : menyadarkan diri bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari harga diri.
- Kepsek dan guru menjadi teladan: membawa tumbler, memungut sampah di depan siswa.
- Materi PAI dan PPKn mengaitkan kebersihan dengan hadits “Kebersihan Sebagian dari Iman” dan nilai “Siri’’.
Tanpa kesadaran, aturan hanya jadi tulisan di mading.
- Pappaseng – Saling Mengingatkan
Dalam budaya Bugis-Makassar,
Sipakainge’_ adalah kewajiban saling mengingatkan dalam kebaikan.
- Setiap kelas memiliki “Duta Pesse” yang bertugas mengingatkan teman untuk membuang sampah pada tempatnya.
- Ada “Kotak Pappaseng” di setiap koridor: siswa menulis pesan sopan untuk mengingatkan teman tanpa menjatuhkan harga diri.
Dengan cara ini, menegur tidak menjadi konflik, tetapi menjadi wujud kasih sayang.
- Pattujuang – Bergerak Bersama
Sipatokkong atau gotong royong adalah ruh masyarakat Bugis-Makassar.
- Jumat Bersih menjadi ajang Pattujuang : seluruh warga sekolah turun membersihkan dan memilah sampah.
- Hasil sampah anorganik dikelola Bank Sampah Sekolah, dan keuntungannya digunakan untuk kegiatan sosial kelas.
Gerakan bersama membuat beban terasa ringan dan hasil terasa milik bersama.
3. Peran Semua Warga Sekolah
- Guru: Mengintegrasikan nilai
Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge’ ke dalam pembelajaran. Matematika menghitung volume sampah, Bahasa Indonesia menulis “Pappaseng” lingkungan. - Siswa: Menjadi pelaku utama. Lomba “Kelas Tappakainge’” memberi penghargaan pada kelas paling tertib dan peduli.
- TU & Satpam: Menjaga sarana dan memastikan sistem pemilahan berjalan.
- Orang Tua & Komite: Mendukung kebijakan sekolah bebas plastik dan menjadi mitra dalam pembiasaan di rumah.
- Dari SMAN 2 Pinrang untuk Sulsel Maju Berkarakter
Kami tidak ingin pengelolaan sampah berhenti sebagai program Adiwiyata. Kami ingin ia menjadi karakter Bugis-Makassar yang hidup:
Siri’, untuk menjaga nama baik,
Pesse, untuk peduli sesama, Sipakainge’, untuk saling mengingatkan, dan Sipatokkong untuk bergerak bersama.
Ketika lulusan SMAN 2 Pinrang keluar sekolah, mereka membawa identitas ini. Mereka tidak hanya cerdas, tetapi juga punya malu jika merusak lingkungan dan punya hati untuk memperbaikinya.
Inilah kontribusi nyata kami untuk Sulsel Maju Berkarakter. Maju karena berpengetahuan, berkarakter karena berakar pada budaya sendiri.
Penutup
Ayat-ayat Allah mengingatkan bahwa kerusakan bumi berasal dari perbuatan tangan manusia. Maka perbaikannya juga harus dimulai dari tangan yang sama, yang digerakkan oleh hati yang memiliki “siri’ na pesse”.
Di SMAN 2 Pinrang, kami memilih jalan itu. Kami memulai dari kesadaran, saling mengingatkan, dan bergerak bersama. Karena menjaga bumi adalah amanah, dan amanah hanya bisa ditunaikan oleh orang yang berkarakter.
