SD Negeri 19 Rangas Jadi Sekolah Mentor Pelatihan BCKS Sulawesi Barat

bagikan

Majene, SUARAGURUSULSEL.COM – SD Negeri 19 Rangas, Kabupaten Majene, mendapat kepercayaan menjadi salah satu sekolah mentor dalam rangkaian Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Tahun 2026 Provinsi Sulawesi Barat. Jum’at, (4/9/26).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh KGTK Provinsi Sulawesi Barat tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan calon pemimpin satuan pendidikan yang memiliki kompetensi kepemimpinan, kepribadian, profesional, dan sosial.

Pelatihan BCKS Tahun 2026 merupakan bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2025 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. Dalam Pasal 15 Ayat (3) disebutkan bahwa guru yang dinyatakan lulus Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah memperoleh Sertifikat Pelatihan Calon Kepala Sekolah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal.

Sebagai salah satu tahapan pembelajaran kepemimpinan, peserta BCKS mengikuti kegiatan shadowing di sekolah-sekolah mentor. Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk melihat dan mempelajari secara langsung praktik pengelolaan satuan pendidikan, kepemimpinan pembelajaran, pengelolaan sumber daya, hingga budaya sekolah yang dikembangkan secara berkelanjutan.

Di SD Negeri 19 Rangas, kegiatan berlangsung selama empat hari, mulai 31 Agustus hingga 4 September 2026. Para peserta terlibat dalam berbagai aktivitas pembelajaran, di antaranya shadowing, observasi, diskusi, simulasi, studi kasus, serta refleksi kepemimpinan sekolah.

Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Peserta tidak hanya diarahkan untuk mengamati praktik baik yang diterapkan sekolah mentor, tetapi juga memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengalaman yang diperoleh sebagai bekal menjalankan peran sebagai calon pemimpin pembelajaran.

Sejumlah aspek kepemimpinan sekolah menjadi materi pembelajaran peserta, mulai dari penguatan kompetensi kepribadian dan kewirausahaan, penyusunan visi sekolah, perencanaan berbasis data, pengelolaan sumber daya sekolah, pemantauan dan evaluasi program, hingga pelaksanaan supervisi akademik.

Dalam supervisi akademik, peserta mempelajari tahapan secara utuh, mulai dari perencanaan, pelaksanaan observasi pembelajaran, hingga proses refleksi bersama guru.

Salah seorang peserta BCKS, Nunuk Haryanti, Kepala SD Inpres Malei yang juga merupakan Asesor Badan Akreditasi Provinsi Sulawesi Barat, menegaskan bahwa kunjungan ke sekolah mentor bukan merupakan proses penilaian terhadap sekolah yang dikunjungi.

“Kunjungan sekolah ini bukan untuk menilai baik atau buruknya sekolah mentor. Kami hadir untuk belajar bersama Kepala Sekolah, memperkuat kompetensi kepribadian, profesional, dan sosial sebagai bekal menjadi kepala sekolah,” ungkap Nunuk.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun budaya saling belajar dan berbagi pengalaman antarpemimpin pendidikan.

Hal senada disampaikan Kepala Sekolah Mentor SD Negeri 19 Rangas, Misbahuddin. Ia mengaku bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepada SD Negeri 19 Rangas sebagai sekolah mentor dalam pelatihan BCKS tingkat Provinsi Sulawesi Barat.

“Menjadi Kepala Sekolah Mentor merupakan sebuah amanah sekaligus kesempatan untuk terus belajar. Berbagi pengalaman dengan para peserta BCKS justru memberikan ruang refleksi bagi kami untuk melihat kembali berbagai praktik yang telah dilakukan dan terus berupaya melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” kata Misbahuddin.

Ia menambahkan, kehadiran peserta BCKS selama empat hari turut memberikan energi positif bagi warga sekolah.

“Kehadiran Bapak/Ibu peserta bukan hanya menjadi bagian dari proses pelatihan, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk saling berbagi inspirasi dan memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” lanjutnya.

Misbahuddin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas kebersamaan selama kegiatan berlangsung. Ia turut menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan, baik dalam penyambutan, fasilitas maupun pelayanan.

Menurutnya, meskipun berlangsung dalam waktu relatif singkat, empat hari kebersamaan tersebut telah memberikan pengalaman bermakna, mempererat hubungan profesional, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antarpendidik di Sulawesi Barat.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian pelatihan berakhir. Jejaring yang telah terbentuk diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi berkelanjutan dalam berbagi praktik baik dan meningkatkan mutu layanan pendidikan.

Sebab, kepemimpinan pendidikan tidak hanya dibangun melalui teori dan pelatihan, tetapi juga melalui pengalaman nyata, refleksi, kolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar dan melakukan perbaikan.

“Sekolah yang hebat bukan dibangun oleh satu orang yang merasa paling tahu, tetapi oleh komunitas pembelajar yang terus bergerak, bertumbuh, dan menguatkan satu sama lain.” (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *