PENGGERAK LITERASI BERMIMPI BESAR

bagikan

Penulis: Dra. Sitti Dahlia Azis
(Kandidat PLD Nasional 2025)

Pinrang, SUARAGURUSULSEL.COM – Best Practice Penggerakan Literasi oleh Kandidat Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025 di Kabupaten Pinrang.

  • Pendahuluan
  • Gerakan Nasional yang Hidup di Ruang Daerah.

Penguatan literasi di Indonesia tidak hanya berjalan melalui kebijakan dan program, tetapi juga melalui kehadiran para penggeraknya di ruang-ruang pendidikan dan komunitas. Salah satu peran tersebut adalah Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025, yang hadir sebagai bagian dari gerakan nasional dan menjalankan tugas penguatan literasi di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Pinrang.

Dalam konteks ini, gerakan literasi tidak hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, tetapi menyatu dalam aktivitas sekolah, komunitas, dan ruang-ruang pembelajaran yang terus bergerak.

Dari perjalanan itu, muncul refleksi yang sederhana namun dalam:
“Layakkah aku bermimpi besar dalam gerakan literasi ini?”
Pertanyaan ini tidak lahir dari keraguan untuk bergerak, tetapi dari kesadaran bahwa penggerakan literasi adalah proses panjang yang sering kali berjalan lebih senyap dibandingkan sorotan yang diterimanya.

  • Gerakan Literasi dalam Praktik Nyata di Sekolah dan Komunitas

Sebagai kandidat PLD Nasional 2025 yang menjalankan pengabdian di Kabupaten Pinrang, gerakan literasi diwujudkan melalui keterhubungan berbagai ruang pendidikan.

Di lingkungan sekolah, penguatan literasi dilakukan melalui pendampingan siswa dalam menulis, pengembangan kegiatan jurnalistik sekolah, serta pembiasaan berpikir kritis melalui karya dan dokumentasi kegiatan.

Jurnalistik sekolah menjadi salah satu ruang utama yang memperlihatkan bagaimana literasi tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi sebagai praktik nyata. Di dalamnya, siswa belajar menulis, mengamati, menyusun informasi, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Sementara itu, dalam ruang komunitas, gerakan literasi berkembang melalui kolaborasi, diskusi, dan jejaring yang memperluas ruang gerak literasi di luar sekolah. Semua ini membentuk satu ekosistem yang saling terhubung dan saling menguatkan.

  • Tantangan dalam Proses Penggerakan Literasi

Dalam praktiknya, penggerakan literasi tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Terdapat tantangan yang bersifat teknis, seperti keterbatasan waktu dan dinamika kegiatan sekolah, serta tantangan non-teknis seperti menjaga konsistensi gerakan di tengah berbagai peran yang berjalan bersamaan.

Di sisi lain, terdapat pula pengalaman kerja sunyi yang tidak selalu terlihat, mulai dari proses pendampingan yang panjang, hingga upaya menjaga semangat literasi agar tetap hidup di tengah perubahan situasi.

Namun justru dari tantangan tersebut, terbentuk pemahaman bahwa gerakan literasi adalah proses jangka panjang yang membutuhkan ketahanan, bukan hanya program sesaat.

Jejak Praktik dan Dokumentasi Gerakan
Gerakan literasi ini tercermin dalam berbagai jejak praktik yang terdokumentasi melalui aktivitas nyata di lapangan. Dokumentasi tersebut hadir dalam bentuk kegiatan jurnalistik sekolah, proses pendampingan siswa dalam menulis, serta keterlibatan dalam aktivitas literasi berbasis komunitas.

Jejak ini bukan sekadar arsip kegiatan, tetapi menjadi bukti bahwa literasi benar-benar hidup dan bergerak di ruang pendidikan. Walaupun tidak selalu ditunjukkan dalam bentuk angka atau data statistik, dokumentasi visual, karya siswa, dan aktivitas lapangan menjadi representasi dari proses yang terus berlangsung.

  • Refleksi
    Tentang Mimpi Besar dalam Gerakan Literasi
    Dalam perjalanan sebagai kandidat PLD Nasional 2025 di Kabupaten Pinrang, makna “bermimpi besar” tidak dipahami sebagai pencapaian yang harus segera terlihat, tetapi sebagai keberanian untuk terus menjaga gerakan yang sedang tumbuh.
    Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa literasi tidak menuntut kesempurnaan untuk bergerak, tetapi membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan kehadiran yang berkelanjutan.
    Maka pertanyaan “layakkah aku bermimpi besar?” tidak dijawab dengan teori, tetapi dijawab dengan perjalanan yang terus dijalani dalam praktik nyata.
  • Penutup
    Gerakan yang Menyatu dengan Perjalanan
    Gerakan literasi yang dijalankan dalam ruang pengabdian PLD Nasional 2025 di Kabupaten Pinrang merupakan bagian dari perjalanan panjang yang tidak berdiri sendiri. Ia menyatu dalam ruang sekolah, komunitas, dan jejaring literasi yang terus berkembang.

Pada akhirnya, gerakan ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang keberlanjutan proses yang dijaga bersama. Dan dari proses itulah, mimpi besar tidak berhenti sebagai pertanyaan—melainkan menjadi perjalanan yang terus hidup dalam praktik nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *